viralkan.org – Donald Trump adalah salah satu tokoh politik paling terkenal dan kontroversial di dunia. Namanya menjadi sorotan global sejak ia mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat dan akhirnya menjabat sebagai Presiden ke-45. Sosok Trump tidak hanya dikenal karena kebijakannya yang berani, tetapi juga karena latar belakangnya sebagai pengusaha sukses dan selebritas televisi.
Dengan gaya kepemimpinan yang tidak konvensional, Trump berhasil menciptakan dinamika baru dalam lanskap politik Amerika. Pendekatannya sering kali menuai kritik dan pujian secara bersamaan. Artikel ini akan membahas profil lengkap Trump, perjalanan karier politiknya, serta dampak yang ditinggalkannya baik di dalam maupun luar negeri.
Baca Juga: Radja Nainggolan: Perjalanan Karier dan Kehidupan Pribadi
Latar Belakang dan Kehidupan Awal Trump
Masa Kecil dan Pendidikan Trump
Trump lahir pada 14 Juni 1946 di Queens, New York City. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara dalam keluarga Fred dan Mary Anne Trump. Ayahnya adalah seorang pengembang properti yang sukses, dan bisnis ini kelak diwariskan kepada Donald Trump.
Pendidikan Trump dimulai di Kew-Forest School, tetapi karena masalah perilaku, ia dipindahkan ke New York Military Academy. Setelah lulus, ia melanjutkan studi ke Fordham University sebelum akhirnya pindah ke Wharton School of the University of Pennsylvania, tempat ia mendapatkan gelar di bidang ekonomi.
Karier Awal dalam Dunia Bisnis
Setelah lulus kuliah, Trump bergabung dengan perusahaan ayahnya, Elizabeth Trump & Son. Ia kemudian mengambil alih kendali perusahaan dan mengganti namanya menjadi The Trump Organization. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan ini berkembang pesat dan mencakup berbagai proyek real estate skala besar di Manhattan, termasuk Trump Tower dan proyek-proyek kasino di Atlantic City.
Nama Trump menjadi identik dengan kemewahan dan properti elit. Selain properti, ia juga menjajal dunia hiburan, termasuk sebagai pembawa acara dalam reality show populer, The Apprentice, yang semakin memperkuat citranya di mata publik.
Baca Juga: Titiek Puspa: Legenda Musik Indonesia yang Abadi
Perjalanan Politik Trump
Mencalonkan Diri sebagai Presiden
Trump secara resmi mencalonkan diri sebagai Presiden dari Partai Republik pada tahun 2015. Dengan slogan populernya, Make America Great Again, ia berhasil menarik perhatian banyak kalangan, khususnya warga negara yang merasa kecewa dengan sistem politik konvensional.
Kampanye Trump penuh warna, sering kali menimbulkan kontroversi karena pernyataan-pernyataan tajamnya terhadap imigrasi, kebijakan luar negeri, dan ekonomi. Meski banyak yang meragukannya, Trump akhirnya berhasil mengalahkan kandidat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, dalam pemilu tahun 2016.
Kepemimpinan Trump sebagai Presiden AS
Sebagai presiden, Trump menerapkan berbagai kebijakan yang mengubah arah kebijakan Amerika Serikat. Beberapa keputusan yang paling menonjol di antaranya adalah:
-
Penarikan AS dari Perjanjian Paris tentang perubahan iklim
-
Reformasi pajak besar-besaran
-
Pengetatan imigrasi dan pembangunan tembok perbatasan dengan Meksiko
-
Pendekatan keras terhadap perdagangan dengan China
Kebijakan luar negeri Trump bersifat nasionalis dan proteksionis. Ia mengusung prinsip “America First”, yang mendorong pengurangan keterlibatan AS dalam urusan global dan peningkatan fokus terhadap kepentingan domestik.
Pemilu 2020 dan Setelahnya
Pada pemilu 2020, Trump mencalonkan diri kembali namun kalah dari kandidat Demokrat, Joe Biden. Kekalahan ini tidak diterima begitu saja oleh Trump. Ia menuding terjadinya kecurangan pemilu dan mengajukan berbagai gugatan hukum, meski mayoritas ditolak pengadilan.
Puncaknya terjadi pada 6 Januari 2021, saat sekelompok pendukung Trump menyerbu Gedung Capitol. Insiden ini mengejutkan dunia dan mengakibatkan Trump didakwa untuk kedua kalinya dalam proses pemakzulan oleh DPR AS, menjadikannya satu-satunya presiden dalam sejarah yang dimakzulkan dua kali, meski Senat akhirnya membebaskannya dari tuduhan.
Dampak Global dari Kepemimpinan Trump
Hubungan Internasional dan Diplomasi
Trump memiliki gaya diplomasi yang tidak lazim, sering kali melakukan pendekatan langsung kepada pemimpin dunia, termasuk Korea Utara, Rusia, dan China. Pertemuannya dengan Kim Jong-un menjadi sorotan besar karena merupakan pertama kalinya presiden AS bertemu langsung dengan pemimpin Korea Utara.
Namun, pendekatan ini juga memicu kekhawatiran di antara sekutu tradisional AS, karena dianggap mengabaikan norma diplomatik. Penarikan AS dari berbagai organisasi internasional di bawah Trump menunjukkan sikap skeptisnya terhadap multilateralisme.
Dampak terhadap Ekonomi Dunia
Kebijakan dagang Trump berdampak besar terhadap ekonomi global. Perang dagang dengan China menyebabkan ketegangan ekonomi antara dua negara adidaya, memicu volatilitas pasar dan berdampak pada rantai pasokan global. Meski ia berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi domestik sebelum pandemi, dampak jangka panjang kebijakannya masih diperdebatkan.
Isu Rasisme dan Diskriminasi
Selama masa jabatan Trump, terjadi peningkatan ketegangan rasial di Amerika. Komentar-komentar kontroversial Trump sering kali dianggap memicu polarisasi, termasuk dalam isu gerakan Black Lives Matter. Banyak pihak menilai bahwa retorikanya memperdalam perpecahan sosial di dalam negeri.
Kehidupan Setelah Kepresidenan
Aktivitas Politik Pasca-Kepresidenan
Setelah meninggalkan Gedung Putih, Trump tidak sepenuhnya mundur dari dunia politik. Ia tetap menjadi figur sentral dalam Partai Republik dan memberikan dukungan terhadap kandidat yang loyal kepadanya. Bahkan, Trump mengisyaratkan kemungkinan mencalonkan diri lagi pada pemilu mendatang.
Platform Media Sosial Sendiri
Setelah akun Twitter dan Facebook-nya diblokir pasca-kerusuhan Capitol, Trump meluncurkan platform media sosial sendiri bernama Truth Social. Platform ini menjadi wadah utama bagi Trump untuk tetap menyampaikan pesan-pesan politiknya secara langsung kepada pendukung.
Truth Social memperkuat posisi Trump sebagai tokoh yang anti-mainstream, yang terus menantang dominasi media arus utama dan perusahaan teknologi besar.
Citra Publik dan Dukungan Massa
Basis Pendukung yang Solid
Trump dikenal memiliki basis pendukung yang sangat loyal. Banyak di antara mereka menganggap Trump sebagai penyelamat nilai-nilai konservatif dan patriotisme Amerika. Kampanye Trump sering kali diwarnai oleh antusiasme besar dari massa yang datang dari berbagai latar belakang sosial.
Kritikus dan Penentang
Di sisi lain, banyak pula yang menentang keras kepemimpinannya. Kritikus menyebut bahwa Trump kerap menyebarkan misinformasi, tidak menghormati prinsip demokrasi, serta mendorong intoleransi dan pembelahan sosial.
Ketegangan antara pendukung dan penentang Trump menjadi cermin nyata dari polarisasi yang terjadi di masyarakat Amerika Serikat selama dan setelah masa kepresidenannya